Salah satu tuntunan yang ditekankan dalam upaya memuliakan yatim ialah
menghindari perlakuan sewenang-wenang, baik berupa fisik maupun
nonfisik. Larangan tersebut tertera jelas dalam surah ad-Dhuha di atas.
Ketua
Yayasan Dinamika Umat Ustaz Hasan Basri Tanjung mengatakan, menghardik
dapat diartikan sebagai sebuah kata verbal dan nonverbal. Hardikan
dengan verbal artinya seseorang menghardik anak yatim dengan kata-kata
kasar, mengejek, dan menghina mereka.
Sedangkan, hardikan dengan
nonverbal artinya menghardik anak yatim dengan menzalimi secara tindakan
atau perbuatan. Sekalipun bertutur kata lembut, tak pernah memberikan
makan dan pakaian yang layak bagi anak yatim.
Menghardik dengan
perbuatan pun dilakukan bagi mereka yang bertanggung jawab memelihara
anak yatim, tetapi memakan hartanya. Mereka seharusnya mampu bertanggung
jawab dengan pendidikan dan pertumbuhannya hingga dewasa.
Hasan
pun menegaskan rujukan larangan tindakan lalim terhadap yatim pada surah
ad-Dhuha di atas. Dalam surah tersebut dikisahkan juga Nabi Muhammad
SAW yang menjadi anak yatim. Dia menjelaskan bahwa Allah SWT
memerintahkan untuk tidak berbuat sewenang-wenang terhadap anak yatim.
Lantaran, yatim berada dalam lindungan-Nya.
Perbuatan
sewenang-wenang itu, ungkap Hasan, di antaranya, ucapan kasar, mencaci
maki, mengabaikan keberadaan, hingga tidak peduli dengan kesusahan
mereka. Dia mengutip pernyataan sosok pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad
Dahlan, yang menyatakan percuma saja shalat, tetapi tidak dapat
memuliakan anak yatim. Begitu juga dengan menelantarkan anak yatim sama
saja dengan mendustakan agama.
Hasan menukilkan surah al-Ma’un.
Surah tersebut memosisikan mereka yang menghardik yatim dengan pendusta
agama. Celaka bagi mereka yang shalat, tetapi tidak peduli dengan anak
yatim piatu. Dengan memelihara anak yatim piatu maka seorang Muslim,
kesalehan individu, dan sosial bisa teraih.
Para pelaku
kesewenang-wenangan terhadap yatim, ujar Hasan, akan mendapatkan balasan
dari Allah SWT. Ini, antara lain, ditegaskan di surah an-Nisaa’ ayat
10. Allah mengganjar mereka yang memakan harta yatim secara lalim,
sebenarnya menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api
yang menyala-nyala neraka.
Kedua, menghina anak yatim sama saja
dengan menempuh jalan ke neraka. Karena, dengan menyakiti hati anak
yatim, apa pun doa anak yatim akan dikabulkan oleh Allah SWT. “Doa baik
dan buruk yatim akan dikabulkan,” katanya.
Dosen Fakultas
Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ustaz Ahmad Ilyas Ismail
mengatakan, memuliakan anak yatim merupakan kewajiban setiap Muslim.
Kewajiban tersebut bersifat sosial dan berlaku bagi sesama manusia.
Sehingga,
bagi mereka yang bertindak kasar, baik dengan menghardik maupun
perbuatan buruk lainnya, akan mendapatkan balasan yang sangat berat.
Seperti penegasan surah al-Ma’un di atas, celaka bagi mereka yang
shalat, tetapi menelantarkan anak yatim. “Ini bukan lantas berarti tidak
shalat sama sekali,” katanya.
Menghardik tidak hanya kata-kata
kasar, tetapi juga mengganggu mereka secara psikologis. Artinya, mereka
bisa saja memberikan makan, tetapi dengan cara tidak santun dengan
melemparnya. Begitu juga bagi keluarga yang bersedia memelihara mereka,
tetapi justru menggunakan harta anak yatim untuk kepentingan pribadi.
Seharusnya,
papar Ahmad, sebagai keluarga dan orang yang telah bersedia bertanggung
jawab menjaga dan mendidik anak yatim, harus bisa menjaga harta yang
dibawa anak tersebut. Setelah dewasa, mereka berkewajiban menyerahkan
kembali harta milik anak tersebut.
Tetapi, jika mereka tetap
bersikeras memakan harta tersebut, mereka termasuk dalam golongan yang
melakukan dosa besar. Simak ayat kedua surah an-Nisaa’ berikut.
“Dan,
berikanlah kepada anak-anak yatim yang sudah dewasa harta mereka,
janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan janganlah kamu
makan harta mereka bersama hartamu. Sungguh tindakan menukar dan memakan
itu adalah dosa yang besar,”.
Ahmad melanjutkan, Islam mendorong
umatnya agar dapat mencintai anak yatim piatu. Sehingga, mereka
mendapatkan balasan yang baik berupa kasih sayang dan kebaikan dari
Allah SWT.
Menurutnya, sebaik-baik rumah adalah yang di dalamnya
terdapat anak yatim piatu. Mereka tidak hanya memberikan rumah yang
layak, tetapi juga pendidikan dan kesehatan layaknya seorang anak
kandung.
Selasa, 21 November 2017
Balasan Orang yang Menyiksa Anak Yatim
16.54
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar